Kemunculan semula Noor ‘Aishah Abdul Rahman ke dalam industri seni kontemporari yang sering didominasi oleh eksperimen visual dan wacana intelektual menarik perhatian Galeri Seni HARTA untuk mempersembahkan hasil kerjanya.

Hadir sebagai sebuah momen hasi seni yang tenang namun menggugah. Pameran autobiografi terbaru tersebut yang berjudul HIKAYAT menjadi sebuah persembahan karya. Ia adalah perjalanan cerita batin yang diterjemahkan ke dalam bahasa visual yang puitis dan mendalam.

Berlangsung dari 3 hingga 31 Mac 2026, HIKAYAT menandakan sebuah kepulangan yang signifikan buat artis ini. Berakar pada pengalaman hidup yang nyata, refleksi spiritual dan kehalusan rasa. Pameran ini berdiri sebagai manifestasi peribadi yang sarat makna. Sebuah suara yang lahir daripada naskhah kehidupan itu sendiri.
Dideskripsikan oleh artis sebagai “persembahan suara dan cerita,” HIKAYAT menganyam memori dan sejarah melalui persepsi mata, bisikan hati, serta gerak tangan yang lembut menari bersama warna dan elemen alam. Setiap karya membuka ruang kepada suara-suara yang sering terpenda. Khas untuk mengungkapkan tawa dan kebahagiaan, namun tidak menafikan kehadiran ketakutan, keresahan, luka dan ketabahan sunyi yang membentuk kekuatan jiwa.
Di terasnya, HIKAYAT adalah tentang pelajaran dan ujian kehidupan. Sebuah perjalanan menuju penebusan diri dan penyerahan sepenuh jiwa kepada Sang Pencipta. Kanvas-kanvas yang dipamerkan seolah-olah menjadi helaian dalam kitab kehidupannya. Ia turut mencatat kisah pengorbanan, cinta, keimanan dan kebangkitan spiritual.

Melalui lapisan tekstur yang kompleks dan gestur yang emosional, Noor ‘Aishah atau lebih dikenali sebagai Noura AR mahu mengundang penonton untuk menyelami dialog intim antara kerentanan dan kekuatan. Di sinilah terletaknya keindahan HIKAYAT: tidak hanya untuk dilihat, tetapi untuk dirasai. Sebuah pengalaman yang meresonansi jauh ke dalam diri, meninggalkan gema yang halus namun berpanjangan.
Dalam maksud yang merangkum, persembahan HIKAYAT di HARTA berbicara dan bakal memberi mereka yang sudi mendengar 'rasa', ia mungkin juga mengungkap sesuatu yang lebih daripada sekadar seni, ia adalah cerminan jiwa.

